"Ten years from now, twenty years from now, you will see: oil will bring us ruin … Oil is the Devil’s excrement".
—Venezuelan politician Juan Pablo PĂ©rez Alfonzo, one of the founders of OPEC.
Banyak orang yang merendahkan masyarakat dan pemerintah Indonesia karena biarpun kita kaya akan sumber daya alam, tapi dianggap tidak bisa mengolahnya. Banyak masyarakat Indonesia beranggapan kalau kita bisa lebih maju dari kondisi kita sekarang ini apabila kita bisa memperdayakan lebih baik atas kekayaan SDA itu. Tapi sebaiknya kita Jangan merendahkan Indonesia karena ketidakmampuan dalam mengolah SDA ini. Sebab kenyataannya, negara yang kaya akan sumber daya alam cendrung mempunyai pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dari pada negara yang miskin akan sumber daya. Ya itu memang terdengar sangat paradoxical. Tapi ini telah dibuktikan oleh teori yang disebut "Resource Curse." Tesis mengenai Resource Curse pertama kali dirumuskan oleh Richard Auty, sedangkan konsep ini mulain berkembang di awal tahun 80 an.
Nama Resoure Cures itu diambil dari kesimpulan bahwa sumber daya alam itu bisa menjadi "kutukan" bagi suatu negara. Salah satu efek negatif dari kayanya sumber daya alam adalah harga dunia akan sumber daya alam selalu naik-turun. Fluktuasi dari harga itu membuat pendapatan negara menjadi naik-turun. Fluktuasi ini tentu saja akan sangat menggangu stabilitas ekonomi dan akan sangat menggangu perencanaan pembelanjaan negara.
Selanjutnya adalah kurangnya difersifikasi dalam membangun infrastruktur. Dengan kayanya SDA, tentu saja pembelanjaan negara akan sebagian besar dialokasikan untuk pengolhan SDA. Dengan besarnya pendapatan dari SDA, membuat pemerintah enggan untuk mengembangkan sektor-sektor lain. Sehingga hanya sebagian kecil dari pembelanjaan negara untuk sektor-sektor lain seperti sektor perindustrian dan sektor pangan. Sehingga sektor-sektor industri jadi kurang berkembang. Maka efek tari fluktuasi harga SDA akan memberi dampak buruk sekali sebab saat harga itu menurun, sektor industri lain yang kurang berkembang itu tidak dapat membantu penurunan dari pendapatan negara itu.
Selanjutnya, efek negatif lainnya adalah kurang berkembangnya sumber daya manusia. Karena negara kaya SDA membelanjakan sebagian besar dari pembelanjaan negara untuk mengembangkan pengolahan SDA, maka sedikit dana yang dialokasikan untuk pengembangan sistim pendidikan dan pengembangan SDM. Negara-negara seperti Singapore, yang miskin SDA, menginventasikan sebagian besar dananya untuk pendidikan. Pertumbuhan ekonomi sangat tergantung akan SDA, maka dengan kurangnya berkembangnya berkembangnya pendidikan, perkembangan ekonomi pun akan terhambat.
Di Indonesia, sebenarnya negara kita telah menghindari Resource Curse itu. Kita telah berhasil mendifersifikasi dengan mengembangkan sektor industri, pertanian, dan sektor properti. Memang pernah terjadi Resource Curse di Indonesia di tahun 1983, dimana saat berakhirnya bonanza perminyakan yang mengakibatkan menigkatkan penganguran dan meningkatnya kejahatan. Namun sekarang pemerintah kita telah belajar dari kesalahan itu dan telah mendifersifikasi. Dan memang, kebijakan-kebijakan pemerintah yang efektif dalam defersifikasi dapat menanggulangi Resource Curse, seperti halnya Uni Emirats Arab (bisa kita lihat di kota Dubai), yang berifertasi sangat besar ke properti, pengembangan SDM, dan pembangunan infrastruktur, dan mereka tidak hanya mengembangkan pengolahan minyak bumi.
Seperti teori-teori lain, teori ini tentu saja ada kritikan. Dan memang tida teori yang sempurna di dunia ini. Apabila ingin mengetahui lebih banyak mengenai teori ini, silahkan cari di journal-journal seperti di Jstor atau di google scollar. Ini Adalah salah satu tesis mengenai Resource Curse yang saya dapa dari google scollar.
http://www.dundee.ac.uk/cepmlp/journal/html/Vol13/article13-14.pdf
Ya memang kritik itu sangat perlu dan memang banyak sekali permasalahan di pemerintahan kita ini seperti halnya masalah KKN dan pelanggaran HAM yang dilakukan para aparat. Tapi sebaiknya jangan mengutuk pemerintah kita dan merendahkan mereka karena ketidak mampuan dalam mengolah SDA, dimana sebaliknya, mereka sudah melakukan kerja yang cukup baik dalam menangulangi Resource Curse ini. Sehingga dalam memberi keritik, sebiknya kita telaah dulu dan apakah kritik itu benar dan valid. Dan perlu kita ingat; mengurus negara tidak lah gampang. Mengurus diri sendiri atau keluarga saja sangat susah, apalagi mengurus 200 juta juwa yang mempunyai sudut pandang dan kepentingan yang berbeda-beda. Pemerintah patut diberi sedikit pujian dan tidak hanya caci-makian yang selalu didengar hampir setiap hari, walaupun banyak sekali kekurangan dan keborokan mereka.

